Wartasaburai, Bandarlampung — Upaya mencegah berkembangnya paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme (IRE) terus dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan masyarakat dan generasi muda.
Salah satunya diwujudkan melalui aksi penanaman bibit pohon buah yang digelar Densus 88 AT Polri bersama Komunitas Teras Warga dan berbagai elemen masyarakat di kawasan Gunung Banten, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, Minggu (4/10/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Jaga Alam, Jaga Toleransi. Alam Lestari, Damai Menanti.”
Aksi penghijauan ini tidak hanya diarahkan untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat untuk membangun komunikasi, kebersamaan, serta memperkuat nilai toleransi.
Sejumlah unsur turut terlibat, mulai dari mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, komunitas, seniman dan musisi, pegiat lingkungan hingga insan media.
Di antaranya Teras Warga, PMII Rayon Pertanian Unila, PMII Rayon FKIP Unila, Rumah Sikam, SFC Lampung, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Prajurit Semfucker, KOMPARES, Tambulapot Lampung serta unsur pemerintahan kelurahan dan masyarakat setempat.
Dalam kegiatan tersebut, Densus 88 AT Polri bersama para peserta menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mengisi ruang publik dengan aktivitas yang konstruktif dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat.
Mahasiswa, komunitas dan masyarakat dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan sosial sekaligus mencegah masuknya berbagai paham yang dapat mengganggu kerukunan.
Penanaman pohon pun dipilih sebagai salah satu bentuk kegiatan bersama yang sederhana namun memiliki pesan sosial yang kuat. Melalui kegiatan tersebut, berbagai elemen masyarakat dapat berinteraksi dan bekerja sama tanpa memandang latar belakang organisasi maupun komunitas.
Selain memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan ini menjadi momentum untuk menanamkan nilai gotong royong, toleransi, kepedulian sosial dan perdamaian.
Kolaborasi antara Densus 88, komunitas, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, media dan masyarakat setempat mendapat respons positif dari para peserta.
Pendekatan melalui kegiatan sosial dan lingkungan dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pesan pencegahan intoleransi, radikalisme dan ekstremisme secara lebih dekat dengan masyarakat.
Melalui aksi tersebut, para peserta berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat hubungan sosial dan toleransi.
Dengan demikian, pelestarian alam tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga dapat menjadi ruang bersama untuk membangun masyarakat yang harmonis, peduli dan memiliki ketahanan terhadap berbagai pengaruh negatif.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.