Wartasaburai, Lampung  – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan mengalami dua kali erupsi dalam rentang waktu hanya 13 menit pada Jumat (9/10/2026) sore. Letusan pertama menyemburkan kolom abu setinggi 250 meter di atas puncak, sedangkan letusan kedua mencapai 150 meter.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi pertama terjadi pada pukul 16.17 WIB. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah utara serta barat laut.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan bahwa tinggi kolom abu pada erupsi pertama mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau 407 meter di atas permukaan laut.

“Erupsi pertama terjadi pukul 16.17 WIB dengan tinggi kolom sekitar 250 meter di atas puncak. Abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan condong ke arah utara serta barat laut,” kata Suwarno.

Selang 13 menit kemudian, tepatnya pukul 16.30 WIB, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Pada kejadian kedua ini, kolom abu mencapai sekitar 150 meter di atas puncak atau 307 meter di atas permukaan laut.

Abu vulkanik pada letusan kedua juga teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal. Sebarannya mengarah ke utara, timur laut, dan barat.

Baca juga:  Lowongan Kerja PT Barito Putera Plantation 2025: Drafting Assistant di Kalimantan Selatan, Simak Syaratnya

Letusan Kedua Berdurasi Lebih Singkat

Data pengamatan menunjukkan adanya perbedaan karakteristik antara dua erupsi tersebut. Meskipun kolom abu pada letusan kedua lebih rendah, amplitudo maksimum yang tercatat justru lebih besar.

Erupsi pertama memiliki amplitudo maksimum 39 milimeter dengan durasi sekitar 3 menit 46 detik. Sementara itu, erupsi kedua mencatat amplitudo maksimum 56 milimeter dengan durasi sekitar 36 detik.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tinggi kolom abu, amplitudo, dan durasi letusan merupakan parameter pengamatan yang berbeda. Kondisi aktivitas gunung api tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan salah satu indikator tersebut.

Pemantauan secara berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas Anak Krakatau dan mengantisipasi potensi bahaya di kawasan sekitarnya.

Sudah Erupsi Sejak Kamis

Aktivitas Anak Krakatau pada Jumat sore ini menyusul erupsi yang terjadi sehari sebelumnya, Kamis (8/10/2026), pukul 18.28 WIB.

Dalam kejadian tersebut, erupsi berlangsung selama 4 menit 45 detik dengan amplitudo maksimum 46 milimeter. Namun, tinggi kolom abu saat itu tidak teramati.

Rangkaian letusan selama dua hari berturut-turut menjadi perhatian dalam pemantauan aktivitas vulkanik di perairan Lampung Selatan. Meski demikian, frekuensi erupsi dan variasi karakteristik letusan belum cukup untuk memastikan arah perkembangan aktivitas gunung api.

Baca juga:  Batas Waktu Hingga 30 April 2025, Pemilik NPWP se-Indonesia Wajib Tahu Pemberitahuan Ini!

Oleh sebab itu, masyarakat diminta tidak berspekulasi mengenai kondisi Anak Krakatau dan tetap mengacu pada informasi resmi dari petugas pengamatan serta PVMBG.

Status Masih Waspada, Radius 2 Kilometer Terlarang

Di tengah aktivitas erupsi tersebut, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level II atau Waspada.

PVMBG merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekati gunung api maupun melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

Batas aman tersebut perlu dipatuhi untuk menghindari potensi bahaya yang dapat muncul akibat aktivitas vulkanik.

Suwarno kembali mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.

“Masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 2 kilometer. Rekomendasi ini harus dipatuhi untuk menghindari potensi bahaya dari aktivitas erupsi,” ujarnya.

Masyarakat diimbau terus memantau informasi resmi dari PVMBG dan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau. Jeda di antara letusan tidak serta-merta menandakan aktivitas gunung api telah mereda atau kawasan sekitar kawah sudah aman.

Kepatuhan terhadap rekomendasi petugas menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko keselamatan di tengah aktivitas Anak Krakatau yang masih berlangsung.