BANDAR LAMPUNG, WARTASABURAI – Di tengah kenaikan harga bahan pangan, Ahmad Nopen (62), pedagang cilok telur (cilor) di Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, memilih tidak menaikkan harga jualannya. Ia tetap menjual cilor seharga Rp1.000 per porsi meski keuntungan yang diperoleh semakin menipis.

Bagi Ahmad, mempertahankan harga menjadi salah satu cara agar pelanggan setianya tidak beralih. Ia khawatir kenaikan harga justru membuat pembeli mengurangi jumlah pembelian.

Namun, keputusan tersebut membuat Ahmad harus menghadapi tekanan biaya produksi yang terus meningkat, terutama dari bahan baku utama berupa tepung sagu.

Saat ditemui di lapaknya di Jalan H Komarudin, Kelurahan Rajabasa Raya, Selasa (3/11/2026), Ahmad mengatakan harga tepung sagu saat ini sudah mencapai Rp17.500 per kilogram. Padahal, sebelumnya ia masih bisa mendapatkan bahan tersebut dengan harga sekitar Rp10.000 per kilogram.

Kenaikan itu cukup terasa karena dalam sehari dirinya membutuhkan sekitar dua kilogram tepung sagu untuk membuat cilor.

Baca juga:  Aturan Baru Pemerintah untuk Pengurus dan Anggota Ormas se-Indonesia, Wajib Dilaksanakan Tanpa Tawar!

Jika sebelumnya pengeluaran untuk sagu hanya sekitar Rp20.000 per hari, kini Ahmad harus menyiapkan modal Rp35.000 untuk kebutuhan bahan yang sama.

Tak hanya tepung sagu, harga cabai rawit yang menjadi pelengkap dagangannya juga ikut mengalami kenaikan. Harga cabai yang semula sekitar Rp60.000 per kilogram kini mencapai Rp80.000.

Meski biaya produksi semakin besar, Ahmad mengaku belum memiliki rencana menaikkan harga jual. Ia lebih memilih menerima keuntungan yang lebih kecil daripada kehilangan pembeli.

“Ya, paling untungnya menipis saja. Biasanya murah, sekarang harganya mahal, jadi keuntungannya semakin menipis,” ujar Ahmad.

Menurutnya, harga Rp1.000 masih menjadi pertimbangan utama bagi sebagian pelanggan untuk membeli dagangannya. Karena itu, ia berusaha mempertahankan harga tersebut agar cilor tetap bisa dijangkau masyarakat.

“Takutnya kalau harga dinaikkan, peminatnya malah berkurang dan jualannya sepi. Jadi, ya sudah tetap seperti biasanya,” katanya.

Beralih dari Jualan Es ke Cilor

Baca juga:  Sertifikat Rumah Hilang Sejak 2002, BTN Masih Cari Solusi untuk Nasabah di Bandar Lampung

Ahmad mengaku telah menekuni usaha cilor sejak 2019. Sebelum berjualan makanan berbahan aci tersebut, ia lebih dahulu mencari penghasilan dengan menjajakan minuman es.

Namun, seiring waktu, penjualan es yang dijalaninya mulai mengalami penurunan. Kondisi itu membuat Ahmad mencoba mencari peluang usaha lain yang dinilai bisa menopang kebutuhan sehari-hari.

Ia kemudian memutuskan berjualan cilor hingga akhirnya usaha tersebut menjadi sumber penghasilan yang terus digelutinya sampai sekarang.

Selama menjalankan usaha, Ahmad berusaha menjaga harga agar tetap terjangkau bagi pelanggan. Meski harus menghadapi kenaikan harga bahan baku, ia belum ingin membebankan tambahan biaya produksi kepada pembeli.

Di usianya yang kini menginjak 62 tahun, Ahmad berharap harga sejumlah kebutuhan produksi, terutama tepung sagu dan cabai, bisa kembali turun.

Menurutnya, harga bahan baku yang lebih stabil akan sangat membantu pedagang kecil seperti dirinya untuk tetap menjalankan usaha sekaligus menjaga harga jual agar tidak memberatkan masyarakat.