BANDAR LAMPUNG, WARTASABURAI – Tak semua madu memiliki rasa manis yang dominan. Madu dari lebah trigona atau lebah tanpa sengat justru menawarkan karakter rasa yang beragam, mulai dari manis hingga asam. Keunikan tersebut menjadi daya tarik budidaya lebah trigona di Suhita Bee Farm, Batu Putuk, Kota Bandar Lampung, Selasa (13/10/2026).

Suhita Bee Farm menjadi salah satu tempat bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kehidupan lebah trigona, mulai dari proses pemeliharaan hingga produksi madu. Di lokasi ini, lebah dipelihara dalam kotak-kotak kayu yang ditempatkan di lingkungan dengan beragam vegetasi sebagai sumber pakan.

Berlokasi di Jalan Batin Mangku Negara, Batu Putuk, Kecamatan Telukbetung Utara, tempat budidaya ini dapat ditempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Bandar Lampung.

Berbagai tanaman berbunga dan pepohonan di sekitar area budidaya berperan menyediakan nektar yang dikumpulkan lebah. Ketersediaan sumber pakan tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produksi sekaligus karakteristik madu.

Pemilik Suhita Bee Farm, Suyadi, mengatakan dirinya mulai mengembangkan budidaya lebah trigona di Batu Putuk pada 2017. Setahun kemudian, usaha tersebut diperluas ke sejumlah daerah untuk mengembangkan potensi produksi madu.

Baca juga:  Aturan Pecah dan Pisah Sertifikat Tanah Berlaku Mei 2025, Simak Syarat dan Ketentuannya!

“Saya mulai menekuni budidaya lebah trigona ini sejak 2017 di Batu Putuk. Kemudian pada 2018, budidaya mulai saya kembangkan ke sejumlah lokasi lainnya,” ujar Suyadi.

Pengembangan budidaya kini mencakup delapan lokasi, antara lain di Pesisir Barat, Kalianda, OKU Selatan, Way Kanan, dan Langkapura. Suhita Bee Farm juga memiliki lokasi riset di Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Dipengaruhi Nektar dan Proses Alami

Salah satu keistimewaan madu trigona terletak pada cita rasanya yang tidak seragam. Ada madu dengan rasa manis, perpaduan manis dan asam, hingga madu dengan sensasi asam yang lebih kuat.

Suyadi menjelaskan, karakter rasa tersebut berkaitan dengan sumber nektar serta proses alami yang berlangsung selama madu disimpan di dalam sarang. Interaksi dengan bahan sarang, termasuk propolis, turut berperan dalam membentuk karakter produk yang dihasilkan.

Lebah trigona juga membutuhkan perhatian dalam pemeliharaannya. Pemeriksaan sarang dilakukan secara berkala, sekitar 40 hari, untuk memantau perkembangan koloni dan kesiapan panen. Namun, waktu panen tetap menyesuaikan kondisi sarang serta ketersediaan madu.

Faktor cuaca turut memengaruhi produktivitas. Pergantian musim hujan dan kemarau dapat berdampak pada jumlah tanaman berbunga yang tersedia sebagai sumber nektar bagi lebah.

Baca juga:  Pemkab Resmi Luncurkan Bansos untuk Lansia dan Anak Yatim Piatu, Cair Selama 3 Bulan, Segini Nominalnya!

Produksi Mencapai 1,5 Ton

Dengan pengembangan di sejumlah daerah, hasil panen dari delapan lokasi budidaya Suhita Bee Farm disebut mencapai sekitar 750 kilogram hingga 1,5 ton.

Harga madu yang dipasarkan cukup bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp500 ribu, bergantung pada jenis madu dan ukuran kemasan.

Selain menjadi kegiatan usaha, budidaya ini juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mempelajari peran lebah tanpa sengat dalam menghasilkan madu serta pentingnya menjaga lingkungan yang mendukung keberlangsungan koloni.

Pengalaman tersebut turut menarik perhatian pengunjung. Sabina Aulia, salah seorang pengunjung, mengaku tertarik mengenal lebah trigona karena karakteristiknya yang berbeda dari lebah madu pada umumnya.

“Budidaya lebah trigona ini menarik untuk diketahui karena lebahnya tidak memiliki sengat dan madunya memiliki cita rasa yang berbeda dari madu pada umumnya,” ujar Sabina.

Keberadaan Suhita Bee Farm menambah pilihan wisata edukasi di kawasan Batu Putuk, Bandar Lampung. Selain mengenal proses budidaya, pengunjung dapat memperoleh wawasan mengenai hubungan antara lingkungan, ketersediaan nektar, dan produksi madu yang memiliki karakter rasa khas.