Bandar Lampung, Warta Saburai – Sejak fajar menyingsing di Bandar Lampung, suasana di kampus Universitas Lampung sudah dipenuhi langkah para calon mahasiswa. Alih-alih datang terburu-buru, banyak peserta memilih hadir lebih awal.
Pelataran Gedung UPA TIK pun menjadi ruang tunggu, ada yang mengulang catatan terakhir, ada yang berbincang ringan untuk meredakan tegang, dan tak sedikit yang memilih diam, menenangkan diri. Mereka datang dari berbagai penjuru Lampung, membawa cerita perjuangan masing-masing.
Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 bukan sekadar agenda ujian tahunan bagi ribuan peserta, hari itu adalah titik temu antara usaha panjang, harapan, dan keberanian menghadapi ketidakpastian.
Anggie Bherta Zulayma, misalnya, sudah berada di lokasi sejak pukul 05.15 WIB. Perjalanan jauh dari Lampung Timur membuatnya tak ingin mengambil risiko. Namun, kedatangannya yang lebih pagi bukan hanya soal menghindari keterlambatan, ini juga tentang memberi ruang bagi dirinya untuk lebih siap secara mental.
“Saya berangkat lebih awal supaya tidak terlambat, apalagi rumah saya cukup jauh dari sini,” kata Anggie.
Ia telah menempuh berbagai cara untuk mempersiapkan diri, mulai dari bimbingan belajar hingga belajar mandiri. Targetnya jelas, program studi Pendidikan Jasmani. Meski menyimpan optimisme tinggi, Anggie juga menunjukkan kedewasaan dalam memaknai hasil.
Baginya, keberhasilan memang diupayakan, tetapi hasil tetap harus diterima dengan lapang. Ada keyakinan, namun juga ada kesiapan untuk menghadapi kemungkinan lain.
“Saya tetap optimis, tapi juga harus siap menerima apapun hasilnya nanti,” tambahnya.
Cerita serupa datang dari Muhammad Hafizh Ilham. Didampingi sang ibu, ia menapaki area kampus dengan dukungan moral yang terasa kuat. Kehadiran orang tua di momen seperti ini menjadi penguat yang tak tergantikan—bukan hanya sebagai pengantar, tetapi juga sebagai sumber semangat.
Hafizh menaruh harapan pada program studi Desain Komunikasi Visual. Persiapannya tak main-main, memadukan belajar mandiri dengan bimbingan belajar. Ia memahami bahwa persaingan ketat, tetapi usaha tetap menjadi kunci utama.
“Saya sudah belajar dan ikut bimbel, semoga bisa lolos sesuai harapan,” ujarnya.
Di balik kesiapan para peserta, pihak Universitas Lampung juga memainkan peran penting. Ratusan komputer disiapkan di setiap sesi ujian, didukung oleh tim pengawas dan tenaga medis yang siaga. Semua dirancang untuk memastikan ujian berjalan tertib, aman, dan minim gangguan.
“Kami sudah menyiapkan seluruh fasilitas, termasuk komputer, petugas medis, dan pengawasan agar pelaksanaan UTBK berjalan lancar,” jelas Humas Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Lampung, Dr M Komaruddin.
Menurutnya, setiap sesi ujian disediakan sebanyak 792 unit komputer yang digunakan peserta. Selain itu, pihak kampus juga menyiagakan petugas medis serta panitia yang bekerja secara maksimal untuk memastikan keamanan dan kenyamanan selama ujian berlangsung.
Namun, di luar aspek teknis, ada pemandangan lain yang tak kalah menyentuh, para orang tua yang menunggu. Mereka duduk di sudut-sudut kampus, sebagian berbincang, sebagian lagi larut dalam doa. Waktu terasa berjalan lebih lambat bagi mereka, menanti anak-anaknya menyelesaikan salah satu ujian penting dalam hidup.***
