PESAWARAN, Warta Saburai – Di tengah keterbatasan fasilitas dan sulitnya akses menuju wilayah pegunungan, SDS Pujoraharjo di Dusun Pujoraharjo, Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, terus mempertahankan eksistensinya sebagai tempat menimba ilmu bagi anak-anak di daerah terpencil. Selama lebih dari 50 tahun, sekolah swasta tersebut tetap berdiri dan menjadi harapan masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Sekolah yang berdiri sejak era 1970-an itu hingga kini masih menggunakan bangunan sederhana berdinding papan kayu. Sejumlah bagian atap berbahan asbes tampak rapuh dan bocor akibat dimakan usia. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi para guru dan siswa dalam menjalankan proses belajar mengajar setiap hari.

Meski berada jauh dari pusat pemerintahan dan belum tersentuh jaringan listrik PLN, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung mengikuti kurikulum nasional. Kebutuhan listrik dipenuhi melalui panel surya dan turbin air, sementara akses internet di kawasan tersebut masih sangat terbatas sehingga proses pembelajaran dilakukan dengan segala keterbatasan yang ada.

Saat ini SDS Pujoraharjo hanya memiliki 10 siswa yang dibimbing oleh empat tenaga pendidik. Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan beberapa dekade lalu ketika sekolah ini menjadi tempat belajar ratusan anak dari sejumlah dusun di kawasan Gunung Bundar.

Baca juga:  SMA Siger dan Eksperimen Sunyi atas Masa Depan Anak Miskin

Salah seorang guru, Uswatun Hasanah, mengaku tetap memilih mengabdi sejak mulai mengajar pada 2004 meski hanya menerima honor sekitar Rp300 ribu setiap bulan. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk meninggalkan anak-anak yang membutuhkan pendidikan.

“Kami bertahan karena ingin anak-anak di sini tetap bisa mendapatkan pendidikan. Walaupun fasilitas masih sangat terbatas, semangat kami tidak pernah berkurang untuk terus mengajar,” ujar Uswatun Hasanah.

Uswatun menegaskan bahwa dedikasi para guru lahir dari kepedulian agar anak-anak di daerah pegunungan tetap memiliki kesempatan mengenyam pendidikan seperti anak-anak di daerah lain.

Di tengah keterbatasan tersebut, SDS Pujoraharjo juga telah merasakan manfaat Program Makan Bergizi Gratis. Namun, distribusi makanan tidak semudah di wilayah perkotaan. Karena lokasi sekolah berada di puncak gunung, para orang tua siswa harus bergantian mengambil makanan di lereng gunung sebelum membawanya ke sekolah.

Baca juga:  Antusiasme UTBK SNBT 2026 di Unila, Peserta Membludak Sejak Pagi

Guru SDS Pujoraharjo, Naim Jauhari, berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sekolah-sekolah di daerah terpencil, khususnya dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan.

“Kami berharap ada dukungan untuk memperbaiki fasilitas sekolah sehingga anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman. Mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak,” kata Naim.

Menurut Naim, peningkatan fasilitas pendidikan menjadi kebutuhan mendesak agar kualitas pembelajaran di daerah terpencil dapat terus berkembang dan tidak tertinggal dari wilayah lainnya.

Selama lebih dari lima dekade, SDS Pujoraharjo telah menjadi bukti bahwa semangat pendidikan mampu bertahan di tengah berbagai keterbatasan. Di balik bangunan kayu yang mulai lapuk, atap yang bocor, minimnya akses listrik, dan sulitnya jaringan komunikasi, para guru tetap mengabdikan diri, sementara para siswa terus menimba ilmu dengan penuh semangat. Sekolah ini menjadi simbol bahwa harapan akan masa depan yang lebih baik tetap menyala, bahkan dari puncak gunung di Kabupaten Pesawaran.***