JAKARTA, WartaSaburai — Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta (USAHID) menegaskan pentingnya peran akademisi dalam membaca dinamika perang modern yang kian kompleks, mulai dari aspek militer hingga dominasi algoritma dalam membentuk kebenaran.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia?” yang digelar pada Jumat, 10 April 2026, di Sahid Sudirman Residence, Jakarta. Forum ini menghadirkan tiga mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi yang membedah konflik global dari perspektif geopolitik, strategi militer, hingga komunikasi berbasis teknologi.

Kaprodi Doktor Ilmu Komunikasi USAHID Jakarta, Dr. Prasetya Yoga Santoso, mengatakan diskusi ini merupakan bagian dari tanggung jawab akademisi dalam merespons persoalan global. Ia menegaskan bahwa akademisi tidak boleh abai terhadap isu-isu strategis dunia.

“Tugas seorang akademisi adalah hadir di titik paling panas persoalan zaman. Diskusi ini adalah tanggung jawab keilmuan kita sebagai bagian dari masyarakat global,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, Fathurrahman Yahya menjelaskan bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukanlah konflik sporadis, melainkan bagian dari skenario geopolitik jangka panjang sejak berakhirnya Perang Dingin pada 1991. Ia menilai Selat Hormuz menjadi titik kunci dalam perebutan pengaruh global.

Menurutnya, konflik tersebut berkaitan erat dengan kepentingan energi, keamanan, dan geopolitik. “Ini perang untuk menentukan siapa yang menguasai jantung energi dunia. AS mendukung Israel dan menekan Iran karena kombinasi tiga kepentingan,” jelasnya.

Sementara itu, Didin Nasirudin memproyeksikan bahwa Iran tidak akan runtuh meski menghadapi tekanan militer besar. Ia menyebut strategi perang asimetris menjadi kekuatan utama Iran dalam menghadapi konflik.

“Endgame yang paling mungkin adalah gencatan senjata tanpa pemenang mutlak. Iran melemah, tapi tidak hancur,” katanya.

Pandangan lain disampaikan Henry Sianipar yang menyoroti perubahan karakter perang modern. Ia menjelaskan bahwa peperangan saat ini tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga pada ranah kognitif dan pembentukan persepsi publik.

“Kita sudah berada di era perang permanen multi-dimensi. AI adalah pembentuk realitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam konteks komunikasi global, pihak yang menguasai algoritma memiliki kendali besar terhadap kebenaran yang diterima publik.

Diskusi ini sekaligus menegaskan posisi USAHID sebagai ruang produksi pengetahuan strategis di bidang ilmu komunikasi. Melalui Program Doktor Ilmu Komunikasi, kampus tersebut mendorong lahirnya akademisi yang mampu membaca komunikasi sebagai arena kontestasi makna dan kekuasaan.

USAHID menilai bahwa perang modern kini tidak lagi semata-mata berbasis kekuatan militer, melainkan juga konstruksi realitas melalui media, teknologi, dan algoritma. Oleh karena itu, literasi media dan kecerdasan komunikasi strategis menjadi kunci penting dalam menghadapi era perang multi-dimensi berbasis kecerdasan buatan.***