LAMPUNG TIMUR, WARTA SABURAI – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih menghadapi kendala serius. Keterbatasan peralatan pemadam serta lemahnya jangkauan komunikasi menjadi tantangan bagi petugas gabungan dalam mengendalikan api di kawasan konservasi tersebut.
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Yuni Iswandari, mengungkapkan bahwa dari sejumlah mesin pemadam bertekanan tinggi yang tersedia, hanya satu unit yang dilaporkan berfungsi. Kondisi ini membatasi kemampuan petugas untuk menjangkau dan memadamkan kebakaran di sejumlah titik secara bersamaan.
“Dari peralatan yang tersedia, hanya satu unit mesin bertekanan tinggi yang dilaporkan beroperasi. Selain itu, suhu tinggi, kondisi vegetasi kering, dan angin kencang pada siang hari turut berpotensi memperbesar api,” ujar Yuni, Sabtu (10/10/2026).
Selain persoalan peralatan, komunikasi antarpersonel di lapangan juga belum optimal. Perangkat handy talky (HT) yang digunakan petugas dilaporkan hanya memiliki jangkauan sekitar satu kilometer, sehingga menyulitkan koordinasi ketika tim bekerja di wilayah yang berjauhan.
Untuk mendukung operasi pemadaman, petugas membutuhkan tambahan pompa portabel dan perlengkapan pendukung lainnya. Peralatan tersebut dinilai penting untuk mempercepat distribusi air dan membantu menjangkau lokasi yang sulit diakses.
Lima Titik Api Teridentifikasi
Berdasarkan pemantauan Polda Lampung melalui aplikasi Sipongi dan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (9/10/2026), terdeteksi 17 titik panas di wilayah Lampung Timur. Dari jumlah tersebut, lima titik dipastikan merupakan titik api yang memerlukan penanganan.
Petugas gabungan kemudian membagi operasi berdasarkan lokasi kebakaran. Tim darat dikerahkan ke lokasi A dan C, sementara helikopter melakukan pemadaman dari udara melalui metode water bombing di lokasi B.
Di darat, personel memanfaatkan pompa dan selang untuk mengalirkan air ke area terbakar. Petugas lainnya menggunakan peralatan jet shooter untuk membantu memadamkan bara yang masih tersisa.
Menurut Yuni, upaya pemadaman terus dilakukan untuk mencegah api menjalar ke kawasan lain, khususnya area dengan vegetasi semak yang rapat dan lahan gambut.
“Petugas gabungan masih melakukan pemantauan dan pemadaman di sejumlah titik. Upaya ini dilakukan untuk mencegah api meluas, terutama ke kawasan yang memiliki semak rapat dan lahan gambut,” katanya.
Delapan Hektare Ditangani, Asap Masih Terpantau
Hasil penanganan melalui jalur darat di lokasi A dan C dilaporkan mencapai sekitar delapan hektare. Meski demikian, petugas masih mewaspadai potensi munculnya kembali api, mengingat bahan organik di bawah permukaan tanah dapat menyimpan panas dan bara.
Pemantauan menggunakan drone pada Jumat sekitar pukul 17.00 WIB menunjukkan masih adanya titik api dan kepulan asap di sejumlah lokasi.
Di lokasi C, terpantau dua titik kebakaran dengan perkiraan luas masing-masing 0,5 hektare dan lima hektare. Sementara di lokasi A, ditemukan dua titik, salah satunya diperkirakan seluas 0,5 hektare, sedangkan titik lainnya belum dapat diukur secara pasti.
“Di lokasi C, terpantau dua titik dengan perkiraan luasan masing-masing 0,5 hektare dan lima hektare. Di lokasi A, ditemukan dua titik dengan perkiraan luasan 0,5 hektare dan titik lainnya belum menunjukkan luasan kebakaran yang terukur,” jelas Yuni.
Sementara itu, kondisi di lokasi B dilaporkan membaik setelah penyiraman dari udara. Kobaran api di wilayah tersebut terpantau mengecil.
Berbeda dengan lokasi B, di lokasi D asap masih terlihat memanjang dengan perkiraan area terdampak sekitar enam hektare.
Data luasan di setiap lokasi tersebut merupakan hasil pemantauan terpisah. Oleh karena itu, angka-angka tersebut belum dapat dijadikan sebagai total keseluruhan luas kebakaran tanpa pendataan dan verifikasi lebih lanjut.
Polda Lampung bersama pengelola TNWK, TNI, BPBD, mitra pemadam, serta masyarakat masih melanjutkan pemantauan dan upaya pemadaman melalui jalur darat maupun udara.
Keterbatasan sarana dan komunikasi menjadi tantangan yang perlu diatasi agar penanganan karhutla berjalan lebih efektif, sekaligus mencegah api meluas dan mengancam ekosistem di kawasan Taman Nasional Way Kambas.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.