LAMPUNG SELATAN, WARTASABURAI โ Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda masih menunjukkan aktivitas kegempaan setelah statusnya naik menjadi Level III Siaga. Petugas pemantauan mencatat tujuh kejadian gempa sejak Senin (12/10/2026) tengah malam hingga siang hari.
Meski aktivitas kegempaan masih terpantau, belum ada laporan erupsi terbaru dalam periode pengamatan tersebut. Petugas terus memantau perkembangan aktivitas gunung api yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan itu.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan rekaman kegempaan menjadi salah satu parameter penting dalam memantau kondisi gunung api setelah kenaikan status dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga.
โ Aktivitas vulkanik GAK berdasarkan hasil pemantauan terbaru masih menunjukkan adanya kegempaan. Kondisi ini menjadi bagian dari aktivitas gunung api, setelah peningkatan status ke Level III,โ ujar Suwarno saat dikonfirmasi, Senin (12/10/2026).
Berdasarkan hasil pengamatan pukul 06.00โ12.00 WIB, tercatat empat kejadian gempa, yakni tiga gempa embusan dan satu gempa hybrid atau fase banyak.
Sementara pada periode pukul 00.00โ06.00 WIB, petugas merekam tiga kejadian gempa. Jika digabungkan, jumlah kegempaan yang tercatat sejak tengah malam hingga Senin siang mencapai tujuh kejadian.
Selain gempa, alat pemantauan juga merekam tremor menerus atau microtremor dengan amplitudo 2โ22 milimeter dan amplitudo dominan 5 milimeter.
Dari sisi visual, gunung terpantau mulai jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang terlihat membubung sekitar 10โ50 meter di atas puncak. Tekanan asap teramati lemah hingga sedang.
Suwarno menjelaskan, seluruh perkembangan tersebut terus menjadi perhatian petugas untuk mengetahui dinamika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Wisatawan Dilarang Mendekat dalam Radius 5 Kilometer
Seiring dengan status Level III Siaga, masyarakat dan wisatawan diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Berdasarkan rekomendasi tersebut, aktivitas masyarakat maupun wisatawan di sekitar Gunung Anak Krakatau dibatasi. Mereka dilarang mendekati gunung dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Larangan juga diberlakukan pada radius 1 kilometer dari pulau-pulau baru yang berada di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.
Suwarno mengingatkan masyarakat agar tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi bahaya. Warga juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Khusus masyarakat di wilayah pesisir Lampung dan Banten, ia meminta agar tidak terpengaruh kabar yang mengaitkan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan ancaman tsunami tanpa landasan informasi resmi.
โUntuk masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta tidak memercayai isu mengenai erupsi GAK yang disebut dapat memicu tsunami. Ikuti informasi resmi dan arahan dari BPBD maupun instansi terkait,โ kata Suwarno.
Masyarakat diimbau mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi PVMBG dan Badan Geologi, serta mematuhi arahan pemerintah daerah dan instansi terkait.
Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap zona larangan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko keselamatan di tengah aktivitas vulkanik yang masih sering terjadi.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.