BANDAR LAMPUNG, Warta Saburai – Pemerintah Kecamatan Tanjungkarang Timur mendesak PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre IV Tanjungkarang, melakukan pembenahan serius terhadap pengelolaan lingkungan di area Depo Lokomotif Tanjungkarang.
Desakan itu muncul setelah warga RT 13 Kelurahan Sawah Brebes mengeluhkan dugaan pencemaran saluran drainase dan sumur warga yang diduga tercampur material berminyak.
Camat Tanjungkarang Timur, Dedi Saputra, mengatakan pihak kecamatan bersama aparatur Kelurahan Sawah Brebes telah melakukan pertemuan dengan manajemen PT KAI untuk menyampaikan langsung keluhan masyarakat.
“Pihak KAI cukup kooperatif dan menerima keluhan warga, khususnya masyarakat RT 13 Kelurahan Sawah Brebes,” kata Dedi, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, tim dari PT KAI bersama aparatur kelurahan juga telah turun langsung ke lokasi guna memeriksa kondisi drainase dan mengambil sampel air sumur warga yang sebelumnya dikeluhkan berbau minyak.
Berdasarkan penjelasan PT KAI, tidak ditemukan adanya kebocoran pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Material berminyak yang terlihat di saluran drainase disebut berasal dari residu lama yang terbawa aliran air hujan dalam beberapa hari terakhir.
Meski begitu, kondisi tersebut tetap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Warga menilai keberadaan residu minyak hingga masuk ke area permukiman menunjukkan masih lemahnya pengawasan dan pengelolaan limbah di sekitar depo lokomotif.
Dedi menegaskan, persoalan serupa bukan kali pertama dikeluhkan warga. Sebelumnya, masyarakat disebut sudah beberapa kali menyampaikan aduan terkait saluran drainase yang dipenuhi oli dan minyak, namun belum ada penyelesaian yang benar-benar tuntas.
“Harapan kami kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan tidak lagi menimbulkan keresahan warga yang tinggal di sekitar depo,” tegasnya.
Selain melakukan pengecekan lapangan, PT KAI juga disebut telah memberikan sosialisasi kepada warga terkait kondisi yang terjadi di area depo lokomotif.
Sementara itu, PT KAI Divre IV Tanjungkarang dalam keterangan resminya menyebut cairan yang ditemukan di saluran drainase merupakan residu bahan bakar minyak (BBM) lama yang mengendap di sekitar jalur kereta api dan terbawa arus hujan akibat tingginya curah hujan di Bandar Lampung.
Manajer Humas PT KAI Divre IV Tanjungkarang, Azhar Zaki Assjari, memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan kebocoran aktif maupun gangguan fasilitas operasional depo.
“Kami memastikan material cairan tersebut merupakan residu lama yang terbawa aliran air hujan dengan debit tinggi, bukan berasal dari kebocoran baru. Penanganan cepat juga sudah dilakukan,” ujar Azhar.
Sebagai langkah penanganan, PT KAI mengaku telah melakukan normalisasi drainase, pembersihan di sepanjang jalur kereta, serta meningkatkan frekuensi inspeksi di titik-titik rawan genangan dan akumulasi residu.
Meski PT KAI menyatakan kondisi terkendali, warga berharap persoalan ini tidak berhenti pada klarifikasi semata. Masyarakat meminta adanya langkah nyata dan pengawasan yang lebih ketat agar limbah residu tidak kembali mencemari lingkungan permukiman di sekitar Depo Lokomotif Tanjungkarang.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.