Bandar Lampung, Warta Saburai – Kerusakan jalan di kawasan Terusan Pulau Buru, Way Halim Permai, Bandar Lampung, bukan lagi sekadar keluhan warga. Ini adalah potret nyata kelalaian yang dibiarkan berlarut-larut. Lubang menganga, aspal mengelupas, dan permukaan jalan yang hancur menjadi bukti bahwa fungsi dasar infrastruktur menjamin keselamatan publik telah diabaikan.

Fakta di lapangan menunjukkan kerusakan tidak terjadi di satu dua titik. Hampir sepanjang ruas jalan dipenuhi lubang besar yang terus melebar hingga memperlihatkan lapisan dasar. Ini bukan kerusakan ringan, ini kegagalan pemeliharaan. Lebih parah lagi, kondisi ini sudah berlangsung lama tanpa penanganan yang berarti. Pertanyaannya sederhana, ke mana tanggung jawab pihak terkait?

Saat hujan turun, situasi berubah dari buruk menjadi berbahaya. Genangan air menutupi lubang, menjebak pengendara dalam ketidakpastian. Risiko kecelakaan meningkat drastis, terutama bagi pengendara sepeda motor. Ini bukan sekadar soal kenyamanan, ini soal keselamatan jiwa.

Warga sudah bersuara. Junita Sari dengan tegas menggambarkan kondisi yang dihadapi setiap hari harus ekstra hati-hati, terutama saat malam atau hujan. Ironi pun muncul, jalan-jalan kecil di gang justru mulus, sementara jalan utama dibiarkan rusak parah. Ini mencerminkan ketidaktepatan prioritas dalam pembangunan.

“Kalau hujan atau malam hari itu paling rawan, karena lubangnya tidak kelihatan. Kami harus pelan-pelan terus. Yang jadi pertanyaan, jalan di gang-gang sekitar sudah bagus, tapi jalan utamanya malah rusak,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Keluhan Yudi mempertegas dampak lain yang sering diabaikan, kerugian ekonomi. Kendaraan cepat rusak, biaya perawatan meningkat, aktivitas terganggu. Jalan rusak bukan hanya menghambat mobilitas, tetapi juga menggerus kesejahteraan masyarakat secara perlahan.

Yang paling mengkhawatirkan adalah pola lama yang terus terulang,  menunggu korban jatuh sebelum bertindak. Pernyataan

“Jangan sampai harus menunggu ada korban dulu” bukan sekadar harapan, tetapi sindiran keras terhadap lambannya respons pemerintah.

Jalan adalah urat nadi kehidupan kota. Jika akses utama dibiarkan rusak, maka yang terganggu bukan hanya perjalanan, tetapi juga roda ekonomi dan kepercayaan publik. Pemerintah daerah tidak bisa terus bersembunyi di balik alasan klasik. Dibutuhkan tindakan cepat, terukur, dan nyata bukan janji.

“Kami berharap segera ada perbaikan,” tambahnya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang rusak bukan hanya jalan, tetapi juga kredibilitas pemerintah itu sendiri.