BANDAR LAMPUNG, WARTASABURAI – Ancaman cuaca ekstrem membayangi sejumlah wilayah di Provinsi Lampung selama masa peralihan musim atau pancaroba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, hujan es hingga puting beliung.

Kondisi atmosfer yang masih belum stabil membuat perubahan cuaca dapat berlangsung secara cepat. Bahkan, wilayah yang semula mengalami cuaca panas dan cerah berpotensi diguyur hujan dalam waktu singkat.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Lampung, Indra Purna, menjelaskan sebagian besar wilayah Lampung masih berada dalam periode pancaroba. Meski demikian, Lampung Barat dan Pesisir Barat sudah lebih dahulu memasuki musim hujan.

“Secara umum masih pancaroba, tetapi untuk Lampung Barat dan Pesisir Barat sudah masuk musim hujan,” kata Indra, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, peralihan menuju musim hujan di Lampung diperkirakan berlangsung bertahap mulai pertengahan November 2026 hingga awal Januari 2027.

Perubahan tersebut berkaitan dengan pergerakan angin monsun Asia yang membawa massa udara dari arah barat. Kondisi ini menyebabkan wilayah Lampung bagian barat mengalami peningkatan curah hujan lebih awal dibandingkan daerah lainnya.

Baca juga:  The Rise of Augmented Reality in Everyday Life

Sementara itu, Lampung Selatan dan Lampung Timur diperkirakan menjadi dua wilayah yang paling akhir memasuki musim hujan.

“Mulainya sekitar pertengahan November sampai awal Januari. Untuk Lampung Selatan dan Lampung Timur yang paling akhir,” ujarnya.

Awan Cumulonimbus Jadi Ancaman Saat Pancaroba

BMKG juga menyoroti pertumbuhan awan cumulonimbus (CB) yang berpotensi terjadi selama masa peralihan musim. Awan jenis ini dapat berkembang dengan cepat dan memicu cuaca buruk, terutama pada sore hari.

Pertumbuhan awan cumulonimbus berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas lebat, petir, serta hembusan angin kencang. Dalam kondisi tertentu, fenomena atmosfer tersebut juga dapat memicu hujan es hingga puting beliung.

“Pada masa pancaroba, pertumbuhan awan cumulonimbus perlu diwaspadai karena bisa tumbuh dengan cepat. Dampaknya dapat menghasilkan puting beliung dan hujan es,” jelas Indra.

Ia menambahkan, karakteristik cuaca selama pancaroba cenderung tidak merata. Hujan yang terjadi di satu wilayah belum tentu turun di daerah sekitarnya. Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca di lingkungan tempat tinggal untuk memperkirakan keadaan di wilayah lain.

Baca juga:  Kebakaran Hebat Hanguskan Pangkalan Gas LPG di Bandar Lampung, Satu Korban Luka Bakar Serius

Warga Diminta Antisipasi Pohon Tumbang

Menghadapi potensi cuaca ekstrem tersebut, masyarakat diimbau lebih memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.

Warga juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon besar ketika angin kencang melanda. Saat terjadi petir, masyarakat sebaiknya menjauhi lapangan maupun area terbuka untuk mengurangi risiko sambaran petir.

Selain itu, kewaspadaan terhadap pohon tumbang dan dampak angin kencang perlu ditingkatkan, terutama ketika hujan lebat terjadi bersamaan dengan hembusan angin.

BMKG mengingatkan bahwa masa pancaroba merupakan periode ketika perubahan cuaca dapat berlangsung cepat dan sulit dipastikan hanya melalui pengamatan kondisi langit sesaat. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan rutin mengikuti informasi cuaca resmi agar dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem.